Attention



banyak buku yang belum di update dalam daftar buku di E-library, untuk daftar2 buku yang lengkap bisa langsung kunjungi tempat kami di sekretariat IMAKSI, gedung PKM lantai 3 Insya Allah bermanfaat

Postingan kali ini bukan sebuah data tentang standar akuntansi keuangan, tapi sebuah cerita inspiratif, kisah sebuah keluarga tentang bagaimana cara menghargai usaha bukan dilihat dari hasilnya tetapi lihatlah jiwa yang hidup dari usaha itu. Untuk lebih jelasnya inilah kisahnya.

-----------------------------------Selamat Membaca----------------------------

Warung Bunda
 
Dalam perjalanan dari Bandung menuju Jakarta aku berpikir keras, kiranya apa yang membuat Bunda begitu sedih dan tersinggung lantaran kami semua anak-anaknya memintanya beristirahat dan berhenti bekerja mengelola warung kecil di garasi rumah. Aneh, padahal kami anak-anaknya hanya ingin melihatnya bahagia dan menikmati hari tuanya dengan santai tanpa harus memikirkan bagaimana mengelola warung kecil itu lagi. Tapi sampai mobil memasuki komplek rumahku jawaban itu tetap tidak aku temukan, dan disinilah aku kini kembali ke rumah penuh kenangan dimana aku dan ketiga kakak laki-lakiku dibesarkan bersama-sama, mencari jawaban atas kegundahan Bunda tercinta.

Memasuki rumah kecil nyaris tanpa halaman dengan warung kecil di garasi rumah, segenap kerinduan dan kenangan masa kecil bermunculan. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara kandung dan satu saudara tiri laki-laki, anak perempuan semata wayang dalam keluarga menjadi satu-satunya obat penawar kekakuan dalam keluarga seorang perwira menengah kepolisian dan satu-satunya harapan pula untuk penyelesaian segala persoalan agar berakhir bahagia. Aku tengok kamar Bunda, dan aku lihat Bunda terkasih sedang tertidur pulas. Jam memang menunjukkan saat-saat biasanya Bunda beristirahat untuk sekedar melepaskan lelah, maklum usia Bunda yang telah melewati setengah abad tidak sekuat dan sesehat dulu. Proses yang cukup alami memang, anehnya pengalaman pahit selama hidupnya yang lebih banyak ditelan sendiri tidak terlihat menggerogoti kesehatan dan jiwanya lebih dari sewajarnya. Bundaku memang wanita yang luar biasa hebatnya tapi entah mengapa menanggapi permintaan kami anak-anaknya Bunda menjadi begitu emosional dan sedih, benar-benar tidak sesuai seperti harapan kami.

Mataku menatap deretan rokok yang berjajar rapi di etalase kecil di atas meja, tidak terlalu banyak hanya beberapa bungkus memang tapi lumayan lengkap juga. Pandanganku beralih pada deretan minuman, minyak goreng, diterjen dan pengharum pakaian, warung ini memang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil untuk ukuran warung di dalam komplek perumahan begini. Aku taksir paling banyak omset warung ini hanya sanggup menembus lima ratus ribu sehari berarti hanya lima belas juta perbulan dan jika margin labanya 10% maka keuntungan Bunda maksimal satu setengah juta perbulan, apalagi mini market dan mall serta hypermarket yang mestinya membidik kelas pedagang besar mulai membidik pasar rumah tangga berpotensi memperkecil penghasilan Bunda. Belum lagi masyarakat kita yang lebih memilih gengsi dari pada memperhitungkan nilai ekonomis dalam berbelanja, ongkos dan  tenaga yang dikeluarkan jika hanya sekedar berbelanja di tempat-tempat yang nyaman itu tidak lagi diperhitugkan. Mereka merasa lebih pede pulang membeli gula atau minyak goreng dengan memakai kantong berlogo tempat-tempat tersebut ketimbang berbelanja di warung dekat rumah karena hanya berwadahkan kantong kresek hitam yang sudah jadul. Belakangan malah Bunda seringkali bercerita keadaan makin sulit karena seorang agen besar di pasar sengaja mengontrak garasi tetanggaku untuk di jadikan cabang barunya, walhasil harga di warung itu tidak berbeda dengan harga barang-barang di pasar. Perbincangan itulah kiranya yang menjadi dasar pertimbanganku dan saudara yang lain untuk segera mempensiunkan Bunda.   

Baca selengkapnya »