Postingan kali ini bukan sebuah data tentang standar akuntansi keuangan, tapi sebuah cerita inspiratif, kisah sebuah keluarga tentang bagaimana cara menghargai usaha bukan dilihat dari hasilnya tetapi lihatlah jiwa yang hidup dari usaha itu. Untuk lebih jelasnya inilah kisahnya.

-----------------------------------Selamat Membaca----------------------------

Warung Bunda
 
Dalam perjalanan dari Bandung menuju Jakarta aku berpikir keras, kiranya apa yang membuat Bunda begitu sedih dan tersinggung lantaran kami semua anak-anaknya memintanya beristirahat dan berhenti bekerja mengelola warung kecil di garasi rumah. Aneh, padahal kami anak-anaknya hanya ingin melihatnya bahagia dan menikmati hari tuanya dengan santai tanpa harus memikirkan bagaimana mengelola warung kecil itu lagi. Tapi sampai mobil memasuki komplek rumahku jawaban itu tetap tidak aku temukan, dan disinilah aku kini kembali ke rumah penuh kenangan dimana aku dan ketiga kakak laki-lakiku dibesarkan bersama-sama, mencari jawaban atas kegundahan Bunda tercinta.

Memasuki rumah kecil nyaris tanpa halaman dengan warung kecil di garasi rumah, segenap kerinduan dan kenangan masa kecil bermunculan. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara kandung dan satu saudara tiri laki-laki, anak perempuan semata wayang dalam keluarga menjadi satu-satunya obat penawar kekakuan dalam keluarga seorang perwira menengah kepolisian dan satu-satunya harapan pula untuk penyelesaian segala persoalan agar berakhir bahagia. Aku tengok kamar Bunda, dan aku lihat Bunda terkasih sedang tertidur pulas. Jam memang menunjukkan saat-saat biasanya Bunda beristirahat untuk sekedar melepaskan lelah, maklum usia Bunda yang telah melewati setengah abad tidak sekuat dan sesehat dulu. Proses yang cukup alami memang, anehnya pengalaman pahit selama hidupnya yang lebih banyak ditelan sendiri tidak terlihat menggerogoti kesehatan dan jiwanya lebih dari sewajarnya. Bundaku memang wanita yang luar biasa hebatnya tapi entah mengapa menanggapi permintaan kami anak-anaknya Bunda menjadi begitu emosional dan sedih, benar-benar tidak sesuai seperti harapan kami.

Mataku menatap deretan rokok yang berjajar rapi di etalase kecil di atas meja, tidak terlalu banyak hanya beberapa bungkus memang tapi lumayan lengkap juga. Pandanganku beralih pada deretan minuman, minyak goreng, diterjen dan pengharum pakaian, warung ini memang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil untuk ukuran warung di dalam komplek perumahan begini. Aku taksir paling banyak omset warung ini hanya sanggup menembus lima ratus ribu sehari berarti hanya lima belas juta perbulan dan jika margin labanya 10% maka keuntungan Bunda maksimal satu setengah juta perbulan, apalagi mini market dan mall serta hypermarket yang mestinya membidik kelas pedagang besar mulai membidik pasar rumah tangga berpotensi memperkecil penghasilan Bunda. Belum lagi masyarakat kita yang lebih memilih gengsi dari pada memperhitungkan nilai ekonomis dalam berbelanja, ongkos dan  tenaga yang dikeluarkan jika hanya sekedar berbelanja di tempat-tempat yang nyaman itu tidak lagi diperhitugkan. Mereka merasa lebih pede pulang membeli gula atau minyak goreng dengan memakai kantong berlogo tempat-tempat tersebut ketimbang berbelanja di warung dekat rumah karena hanya berwadahkan kantong kresek hitam yang sudah jadul. Belakangan malah Bunda seringkali bercerita keadaan makin sulit karena seorang agen besar di pasar sengaja mengontrak garasi tetanggaku untuk di jadikan cabang barunya, walhasil harga di warung itu tidak berbeda dengan harga barang-barang di pasar. Perbincangan itulah kiranya yang menjadi dasar pertimbanganku dan saudara yang lain untuk segera mempensiunkan Bunda.   


“Mbak, aku mau teh manis ya.. “pintaku pada kakak sepupuku yang selama ini dengan setia menemani Bunda selepas aku pergi merantau ke kota kembang, Bandung. “Ya, sebentar. Bawa oleh-oleh apa ? Brownies kukus bawa kan ?” jawabnya mengiyakan permintaanku tadi. “Bawa, agak banyak nih Mbak, jadi kalau mau dibagi ke tetangga kayanya masih  bisa”sahutku lagi. Sejak brownies kukus booming di Bandung, oleh-oleh yang satu ini menjadi andalanku setiap kali menengok Bunda di Jakarta dan entah suatu kebetulan atau tidak Bunda suka sekali dengan jenis peganan yang satu ini. “Bunda sehat kan ?” kataku basa-basi meskipun tahu justru yang sebalikkanya yang terjadi. “Kamu ini tanya atau apa sih ?” sahutnya lagi sambil menghidangkan teh yang aku minta barusan. Aku hanya tersenyum kecut mendapati diri tertangkap basah tengah berbasa basi yang benar-benar basi itu, sebab semua keluarga pun tahu keadaan Bunda saat ini dan itu juga alasanku datang dari Bandung siang-siang begini. “Kalau capek istirahat dulu ? anak-anak dan Henry tidak ikut ?” tanyanya lagi menemaniku menyeruput teh panas dan sedikit camilan pelepas lelah ini. “Nggak lah, mbak. Kalau ada mereka mana bisa aku bicara serius sama Bunda” kataku lagi. Sepupuku hanya manggut-manggut saja tanda setuju. Kelihatannya dia memang mengerti benar maksudku, untuk masalah seserius ini mestinya memang hanya aku saja yang bicara. Mendekati Bunda untuk bicara dari hati ke hati, ke sesama wanita tentunya dengan harapan lebih pas dan mengena. Siang itu akhirnya aku paksakan untuk sejenak memejamkan mata, mencuri-curi waktu istirahat menunggu saat-saat aku bertemu Bunda sore nanti.

Ketika bangun pukul 4 sore, aku lihat Bunda telah berdandan rapi. Aku amati Bunda dari balik pintu penghubung antara ruang makan dan garasi, bergamis batik coklat dan berjilbab krem sedang asing membongkar belanjaan dan mengecek  serta menempel harga jual pada masing-masing barang dan sesekali diselingi melayani anak-anak atau orang dewasa yang berbelanja. Jangan bayangkan alat penempel barang otomatis seperti di supermarket, di sini semuanya masih dikerjakan secara  manual dengan stiker kecil dan spidol masih sama dengan ritual dua puluh tahun yang lalu. Jangan bayangkan pula orang-orang dewasa atau anak-anak yang berbelanja hingga beberapa puluh ribu sebab kadang hanya seratus dua ratus perak saja. Mataku berkaca-kaca melihat semua itu, membayangkan penghasilan yang setiap bulan masuk ke rekeningku yang nominalnya mencapai tujuh digit membuatku merinding padahal jam kerja yang hanya 9 jam sehari serta masa kerjaku belum lagi genap sepuluh tahun. Benar-benar tidak sebanding dengan usaha Bunda tapi aku perhatikan  Bunda sangat menikmati dan mendadak terlihat sehat sekali. Jadi sesungguhnya dimana salahku dan saudara yang lain serta apa istimewanya warung kecil ini. Aku hampiri Bunda, aku cium tangannya dan tak tahan aku peluk dan ciumi pipinya tanpa berkata apa-apa. Bundaku terkaget, dia memang tahu aku datang tapi  tidak menyangka jika aku akan serta merta memeluk dan menciuminya bertubi-tubi. Mendapati tampangku yang masih semrawut belum lagi mata yang berkaca-kaca menahan jatuhnya butir-butir air mata di pipiku mendorong Bunda untuk akhirnya berbicara “madilah dulu lalu shalat, Bunda tahu ada yang ingin kamu bicarakan bukan ? Sudah Bunda siapkan handuk dan air panas”. Masih tetap lembut seperti dulu. Aku yang tak tahan lagi menahan sesak di dada hanya menggangguk lalu segera pergi menuju kamar mandi.

Selesai mandi dan shalat Ashar, aku dekati Bunda. Aku bantu Bunda menyusun barang-barang yang telah selesai ditempel harga jualnya, aku masukkan ciki-ciki perjenisnya pada kawat penggantung dan aku gantung ronceannya pada paralon panjang yang sengaja dibuat ayah tepat di atas etalase. Inilah pekerjaanku dulu sebelum akhirnya aku berhasil kuliah dan memilih tinggal di kost-kost-an dekat kampus bersama teman-teman yang lain. Menempelkan harga dan bergantian menjaga warung sepulang sekolah juga jadi pekerjaanku, hingga untuk urusan hitung menghitung benar-benar aku kuasai di luar kepala meskipun aku tidak pernah mengikuti kursus sempoa atau jarimatika seperti bungsuku yang masih duduk di bangku TK, jadi tidak salah kiranya aku akhirnya tertarik pada bidang akuntansi yang katanya orang bikin pusing kepala karena terus menghitung uang yang nggak ada wujudnya. “Sehat Bunda ?” kataku berbasa basi yang benar-benar basi, lagi. Tanpa menjawab pertanyaanku Bunda menyahut “nanti malam Bunda mau bicara, kata orang di daerah Jatiwaringin ada kedai Soto Bangkok yang baru di buka. Kita ngobrol di sana ya, berdua saja. Ayahmu tidak pulang nanti malam, katanya istri mudanya muntah darah lagi. Kamu bermalam di sini kan Ning ?”. Aku baru ingat sejak kedatanganku tadi siang aku tidak menemukan Ayah di rumah dan sejujurnya setelah Ayah menikah lagi ketika aku duduk di banku SMA setiap kali aku pulang ke Jakarta dan tidak mendapati Ayah, aku tidak lagi pernah menanyakan keberadaannya. “Ya Bunda” jawabku singkat. “Sehat cucu-cucu dan menantuku ?” katanya lagi. “Alhamdulillah Bunda, berkat doa Bunda semua sehat” sahutku lagi sedikit agak kikuk sebab dalam hati bertanya-tanya kenapa Bunda jadi serius begini.

Usai shalat Magrib dan berpakaian yang pantas serta berdandan sekedarnya mobilku melaju menuju kedai yang Bunda maksud. Selesai makan malam sambil menikmati lalu lintas jalan Jatiwaringin yang mulai macet jika hari menjelang malam apalagi esok hari weekend. Berduyun-duyun kendaraan padat menuju tol Jatiwaringin menuju tol Jagorawi, aku yang  sedianya  ingin memulai pembicaraan malah asyik melamun. “Kita pulang Ning ?” suara Bunda mengagetkan lamunanku. Aku yang sedari tadi melamun kaget mendengarnya, seperti orang yang kena sirep aku menuruti semua kata Bunda. Setelah selesai membayar langsung tancap gas menuju rumah, dalam perjalanan aku baru tersadar kenapa sekarang aku ada di dalam mobil menuju rumah. Aku lirik Bunda yang sedari tadi tidak bersuara, akhirnya aku putuskan untuk turut diam seperti Bunda. Begitu selesai memarkir kendaraan di depan rumah, aku langsung menuju ruang tamu. Bunda menungguku di sana, tanpa berbicara ditariknya tanganku menuju kamarnya “Duduk Ning, kita bicara di sini saja. Lebih leluasa kan ?” katanya sambil berjalan mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu lima watt di sudut  ruangan. “Begini lebih baik, nduk ?” katanya lagi. Samar-samar masih ku lihat wajah Bunda, aku terka-terka apa maksud Bunda mematikan lampu dan menggantikannya dengan yang remang-remang begini. Aku yakin alasannya bukan karena ingin menghadirkan suasana romantis seperti di kafe-kafe, tapi karena Bunda tidak ingin aku melihatnya menangis atau perubahan raut wajahnya yang tidak biasa.  “Kamu tahu Ning, kamu dan Saudara-saudaramu kelihatan memang berniat membunuh Bunda perlahan-lahan” kata-katanya mulai terasa menghujam dadaku. “Kenapa Bunda berpikiran begitu, Bunda tahu aku dan kakak-kakak tidak pernah berpikir begitu” jawabku pelan bahkan nyaris tak terdengar. “Kalau kau berniat mengambil apa yang selama ini menjadi jiwa Bunda, lalu kau sebut itu bukan ingin membunuh Bunda lantas apa namanya Ning ?” katanya lagi dengan tenang. “Bunda jangan tersinggung..”sahutku. Belum lagi aku menjelaskan panjang lebar alasanku meminta Bunda segera menutup warung kecil kesayangannya itu, Bunda kembali berbicara “Warung itu, jiwa Bunda Ning. Kamu masih ingat  kenapa warung itu ada ?” Ya, aku masih ingat betul Bunda. Penghasilan Ayah sebagai seorang perwira menengah kepolisian tidak lagi mencukupi membiayai kami bertiga belum lagi munculnya kakak tiri tiba-tia yang ternyata anak dari istri pertama Ayah yang sebelumnya tidak pernah Ayah ceritakan ditambah keponakan Ayah yang dibiayai sejak kecil karena tante yang meninggal dunia. Keponakan Ayah dan Bunda yang menumpang di rumah karena kamilah satu-satunya keluarga yang menetap di kota besar Jakarta, perlu juga diperhitungkan. Beban berat itulah yang memaksa Bunda akhirnya berbulat tekat membuka warung kecil-kecilan di garasi rumah, maklum garasi yang sedianya untuk mobil kami kelak ternyata tidak juga terisi dengan kendaraan impian itu bahkan hingga hari ini. Berbekal pengalaman di kampung dimana Bunda selalu membantu simbah berdagang dan belajar dari istri salah satu teman Ayah yang kebetulan berdagang di pasar akhirnya warung itu mulai beroperasi. Perlahan tapi pasti warung kecil ini bertambah besar  meskipun masih dalam kategori warung rumahan tapi setidaknya mulai berkembang sesuai harapan Bunda. Serupiah demi serupiah Bunda kumpulkan hingga akhirnya masa-masa menegangkan dipertengahan bulan ketika penghasilan Ayah mulai menipis tidak lagi Bunda rasakan. Warung yang mulai ramai memberikan suntikan dana segar yang cukup berarti buat keluargaku, waktu itu aku memang masih kecil dan Bunda seperti aku tahu hanya menelan semuanya sendiri, tidak ada keluh kesah bahkan air mata yang menetes. “Tapi bukan Bunda pernah bilang penghasilan Bunda dari warung itu sudah jauh berkurang dan menurut Ning sangat tidak sebanding dengan kesehatan Bunda” kataku lagi. Bunda terdiam, dan satu butir air matanya jatuh. “Maaf Bunda, mohon jangan tersinggung” kataku lagi sambil memeluknya erat-erat. “Tidak Ning, tidak apa-apa. Setidaknya Bunda tahu apa yang ada dalam pikiranmu” katanya lagi sambil mengusap air matanya. “Bunda tahu kamu lulusan sekolah akuntansi terbaik di negeri ini, tapi Ning tidak semua hal bisa kamu nilai dari berapa rupaih yang kamu hasilkan dari suatu usaha. Kamu harus menghargai jiwa yang hidup dari usaha itu walau hanya sebuah warung kecil yang menurutmu pasti tidak ada artinya” selanya lagi. “Sekali lagi ampun Bunda, sekarang Ning mengerti” jawabku. “Belum Ning, kau belum lagi mengerti. Hidupmu belum lagi seperti Bunda dan mudah-mudahan nduk tidak akan seperti Bunda”bantahnya. Kembali kemasa lalu, warung itu mungkin bukan sekedar warung biasa buat Bunda, tapi di sanalah letak jiwa, harga diri dan cinta Bunda sekaligus. Dari rupiah demi rupiah yang Bunda kumpulkan, Bunda membantu menghidupi kami sekeluarga, berdua  aku dan kakakku  bisa merasakan les Bahasa Inggris di tempat kursus ternama. Sebelum ada warung tidak usah ditanya bagaimana kakak sulungku dulu bersekolah, hampir tanpa buku pelajaran kalaupun ada itu hanya warisan dari tetangga yang kebetulan kakak kelasnya. Selepas SMA jangan berhayal untuk kuliah di universitas ternama, kalau ingin kuliah carilah beasiswa bahkan  bekerja bisa jadi adalah pilihan paling bijaksana. Jika pun ingin maju usahakanlah sendiri dengan uang hasil kerja kerasmu, kata Bunda waktu itu. Semua menerima keadaan dengan lapang dada, kalaupun akhirnya kakak-kakakku berhasil kini karena ingat benar pesan Bunda yang satu itu. Kakak sulungku Mas Heri mendapat beasiswa dari sebuah perusahaan eksplorasi minyak dan akhirnya berkesempatan juga kuliah di salah satu politeknik kerjasama ITB dan pemerintah Swiss. Sekarang dia bisa bernafas lega, dengan penghasilan yang melimpah ruah dan pekerjaan yang menyenangkan serta  dinamis dengan  berburu tambang-tambang minyak baru dari satu tempat ke tempat lain. Hobi traveling-nya pun jadi  benar-benar tersalurkan. Kakakku yang satu lagi, Mas Aga lebih tertarik menekuni bidang masak memasak, memang awalnya memasuki akademi milik Departemen Kesehatan itu perlu biaya tapi jumlahnya tidak banyak dan semuanya bisa tertutupi dengan honor dari kepiawaiannya menjadi penterjemah. Selepas dari kuliahnya dia yang mestinya terikat ikatan dinas dengan instansi dimana kampusnya itu bernaung justru karena lobi dan kepandaiannya bisa bekerja di salah satu perusahaan makanan bayi ternama sebagai salah satu ahli gizi, bahkan perusahaan barunya itu tidak keberatan mengganti seluruh biaya yang telah dikeluarkan selama kuliah dan bersedia juga memberikan gaji berberapa kali lipat dari yang bakalan dia dapat seandainya tetap bekerja pada instansinya semula. Sedangkan kakak tiriku Mas Adit, setelah lulus SMA lebih memilih bekerja di sebuah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pengelolaan jalan tol dan kuliah ekstensi di malam hari, karena keuletannya kini telah menjadi seorang Juru dengan gaji yang cukup memadai.

Sebenarnya keadaan ekonomi keluarga bisa sedikit membaik, ketika Ayah mulai dapat proyek untuk memasok kebutuhan pokok seperti, gula, kopi, susu dan teh untuk beberapa perusahaan, sampai akhirnya Ayah tergoda dengan istri tetangga kami dan diam-diam akhirnya menyetop jatah bulanan Bunda, warung kecil itu juga yang menyelamatkan kami. Lewat warung itu Bunda menghibur dirinya karena putra putri tercintanya mulai sibuk dengan urusannya masing-masing, menunjukkan harga dirinya dan membuktikan bahwa dirinya bukan ibu rumah tangga sembarangan yang bisa direndahkan begitu rupa oleh suaminya. Bunda memang cuma sekedar bisa baca tulis dan berhitung, tidak seperti selingkuhan Ayah yang kini menjadi madunya, yang katanya seorang guru yang berpendidikan tinggi tapi semua orang tahu bertabiat seperti maling. Benar-benar tidak bisa dibanggakan, meninggalkan suaminya sendiri dan merampas suami tetangganya dan jangan sekali-kali bandingkan dengan Bunda. Hingga akhirnya Ayah pensiun dan usahanya bangkrut, Bunda juga yang dengan lapang hati mengais-ngais rupiah untuk membiayai rumah tangga kami karena ayah mulai sibuk dengan istri barunya yang ternyata terserang TBC hingga kerap kali muntah darah dan keluar masuk rumah sakit. Namaku memang Hening tapi melihat prahara yang mencarutmarutkan keluarga kami sebegitu rupa aku jelas tidak bisa seperti namaku, hanya diam tak bereaksi. Kalau saja saat itu Bunda tak melarang kami anak-anaknya mungkin tidak perlu menunggu sampai Allah yang menghukumnya lewat penyakit TBC yang diderita selingkuhan Ayah hingga mengakibatkan tubuhnya habis dan darah segar seringkali keluar dari mulutnya manakala dia batuk-batuk, aku sendiri yang akan memaksa darah itu keluar tepat dari dadanya dan menikmati kesakitannya sebagaimana dia telah membuat hancurnya hati Bunda hingga luluh lantah begini. “Kalau begitu reaksimu, berarti kamu belum lagi menjadi seorang perempuan Ning, kamu hanya anak Bunda yang berjenis kelamin perempuan. Sikapmu dan jiwamu belum lagi bisa membuatmu disebut sebagai perempuan” nasehat Bunda kala itu. ”Jika harus mengalah tanpa batas begitu, biar saja seumur hidup Ning tidak perlu menjadi perempuan. Biar saja Ning tetap menjadi anak Bunda yang hanya berjenis kelamin perempuan” sahutku penuh amarah. “Dari bicaramu tadi Bunda tangkap akhirnya sedikit kau tahu kita tidak kalah Ning, tapi mengalah. Bunda yakin Allah tidak tidur, dan Dia pasti juga merasakan sakit hati kita karena kelakuan Ayahmu itu” jawabnya lagi. Dan aku terdiam. Entah benar doa orang yang teraniaya itu benar-benar makbul tapi kini semua terbukti. Allah memang Maha Adil.

“Kalau sekarang kamu dan kakak-kakakmu sudah berhasil, tolong jangan paksa Bunda untuk menutup warung itu. Kalau kamu malu memiliki ibu seperti Bundamu ini maafkan nduk, putusan Bunda sudah bulat. Bunda tetap akan ngewarung sampai Bunda tidak sanggup lagi pergi ke pasar untuk kulaan” Bunda mulai berbicara lagi setelah selesai mengusap air matanya. “Kalau kesenangan Bunda bersuamikan Ayahmu sudah diambil dan kau serta saudara-saudaramu kebanggaan Bunda juga telah sibuk dengan keluarga masing-masing Bunda ikhlas, tapi tolong jangan ambil kesenangan Bunda yang lain. Warung itu kesenangan Bunda, Ning. Mengambilnya berarti kalian membunuh Bunda, membiarkan sel-sel dalam otak Bunda beku.” sambungnya lagi. “Bunda ingin bertanya padamu Ning, apa alasanmu setiap kali menjelang hari raya mengumpulkan tetangga-tetangga di rumahmu untuk membuat praline dan kue kering lalu menjualnya ke kolega-kolegamu ? juga apa apa alasanmu masih kerap menulis cerpen untuk majalah kesayanganmu itu ? Besar penghasilanmu dari sana  Ning ? Lebih dari gajimu sebagai seorang akuntan ?” tanya Bunda bertubi-tubi. Aku yang ditanya termangu-mangu dan hanya sanggup menjawab sepenggalan pertanyaannya saja “Tidak lebih besar Bunda”. “Kalau alasanmu ?” desaknya lagi. Aku terdiam. “Kau diam Ning, kau tidak bisa menjelaskan alasanmu pada Bunda ? Alasannya ada di dalam hatimu, karena hatimu kau melakukan semua itu tidak perduli berapa rupiah yang kau hasilkan, bukan ? Sama seperti yang Bunda rasakan sekarang ini. Bunda yakin kau pun akan menolak mentah-mentah jika dipaksa untuk berhenti menulis” jelasnya panjang lebar. “Kau ingin Bunda bahagia, nduk ?” tanyanya lembut sambil mengusap punggungku. “Ya Bunda, bahkan dalam mimpiku pun aku ingin Bunda bahagia” jawabku lirih. “Kalau kau katakan mengerti sekarang Bunda percaya Ning, sekarang tidurlah hari sudah larut” katanya sambil berdiri dan menyalakan lampu kamar tidurnya hingga dapat ku lihat jelas matanya yang sembab dan pipinya yang basah oleh air mata. Dipeluk dan diciumnya keningku lalu berkata “Kau tahu apa yang membuat Bunda mudah berbicara denganmu, karena bahasa kita sama. Kita sama-sama pedagang, kita bicara dengan angka-angka. Hanya saja kau ini masih seorang pedagang muda yang bersemangat dan ambisius sedang Bundamu ini pedagang tua yang yah….” . Tangan dan kepalanya digoyang-goyangkan sambil tersenyum menggambarkan pedangang tua yang sudah tidak punya obsesi apa-apa.
“Baiklah Bunda, Ning mengerti sekarang maksud Bunda. Ning tidak akan memaksa Bunda menutup warung itu lagi dan Ning pastikan juga tidak dengan Saudara yang lain. Ning sayang sekali pada Bunda, Ning cuma minta tolong jaga kesehatan Bunda karena apapun sekarang tidak lebih berharga dari Bunda” terbata-bata aku berbicara pada Bunda sambil air mata terus mengalir dengan derasnya. “Bunda tahu, Ning pikir setelah semua pengorbanan Bunda untuk Ning dan kakak-kakak sekaranglah saatnya Bunda menikmati semua jerih payah Bunda. Bunda tinggal minta apa saja, pasti kami tidak akan segan untuk memenuhinya betapapun sulitnya. Bunda mengertikan ?” kataku kemudian. “Ya nduk Bunda mengerti, dan permintaan Bunda hanya kalian tetap mengizinkan Bunda seperti apa adanya Bunda kini, tidak kurang tidak lebih dan Bunda tidak akan membiarkan seorang pun beranggapan kalian tidak mengurus Bunda karena Bunda mengambil keputusan ini” katanya lembut sambil mengusap air mataku. “Ya, Bunda. Maafkan Ning karena telah menyinggung Bunda dan maafkan yang lain ya” isakku dalam peluknya.

Malam itu sekembali dari perbincangan  yang menguras air mata aku tercenung di dalam kamar, Kau tahu ya Allah betapa aku tidak bermaksud menyakitinya. Aku telah begitu sombong menganggap sebelah mata sesuatu yang tidak mempunyai nilai ekonomis, mungkin benar kata Bunda aku harus melepaskan cara pandangku dalam melihat suatu masalah, cukuplah pertimbangan untung dan rugi secara nominal aku gunakan hanya pada pekerjaanku bukan untuk menilai hal-hal lain dalam hidupku kini dan nanti. Bunda, dari warung kecil di garasi rumah kita aku bisa belajar banyak hal. Belajar menghargai kesenangan orang lain dan tidak salah  menilai sesuatu. Hidup memang laksana menyusun laporan keuangan dan tidak  lepas dari ilmu akuntansi karena hidup juga memerlukan worksheet  tapi bukan terpaku dari seberapa besar nominal transfer yang masuk ke rekening kita setiap bulan tapi juga tentang seberapa besar kita bisa berbuat baik untuk diri kita dan juga orang-orang disekitar kita. Dalam income statement Bunda, jika penghasilan kita dua dan pengeluaran kita dua maka tidak bisa dibilang tidak untung sebab jika pengeluaran kita yang dua itu  digunakan untuk menafkahi keluarga, bersedekah dan hal-hal lain yang berguna maka sesungguhnya kita jauh lebih beruntung. Bunda bilang hidup juga harus ada penyesuaian dan adjustment Bunda dalam hidup adalah hati,  terpenting lagi menjalani hidup harus juga dengan perasaan.
-----------------------------------------**************----------------------------------------------
Jakarta, 22 Mei 2007
Written by Sri Lestari Pujiastuti.

1 komentar:

  1. weuiiiiisss seudiihhhhh
    bagus lahhh

Posting Komentar